DAFTAR ISI
BAB
I
PENDAHULUAN
Jasa
sering dipandang sebagai suatu fenomena yang rumit. Kata jasa itu
sendiri mempunyai banyak arti, dari mulai pelayanan personal
(personal
service)
sampai jasa sebagai produk. Berbagai konsep mengenai pelayanan banyak
dikemukakan oleh para ahli seperti Haksever et
a (2000),
“menyatakan bahwa jasa atau pelayanan (services)
didefinisikan sebagai kegiatan ekonomi yang menghasilkan waktu,
tempat, bentuk dan kegunaan psikologis.”
Menurut
Edvardsson et
al (2005),
“jasa atau pelayanan juga merupakan kegiatan, proses dan interaksi
serta merupakan perubahan dalam kondisi orang atau sesuatu dalam
kepemilikan pelanggan.”
Sinambela (2010, hal
3), “pada dasarnya setiap manusia membutuhkan pelayanan, bahkan
secara ekstrim dapat dikatakan bahwa pelayanan tidak dapat dipisahkan
dengan kehidupan manusia”. Menurut Kotlern dalam Sampara Lukman,
“pelayanan adalah setiap kegiatan yang menguntungkan dalam suatu
kumpulan atau kesatuan, dan menawarkan kepuasan meskipun hasilnya
tidak terikat pada suatu produk secara fisik.” Selanjutnya Sampara
berpendapat, “pelayanan adalah sutu kegiatan yang terjadi dalam
interaksi langsung antar seseorang dengan orang lain atau mesin
secara fisik, dan menyediakan kepuasan pelanggan.”
Pelayanan
adalah kualitas pelayanan birokrat terhadap masyarakat. Kata kualitas
memiliki banyak definisi yang berbeda dan bervariasi mulai dari yang
konvensional hingga yang lebih strategis. Definisi konvesional dari
kualitas biasanya menggambarkan karakteristik langsung dari suatu
produk. Adapun dalam definisi strategis dinyatakan bahwa kualitas
adalah segala sesuatu yang mampu memenuhi keinginan atau kebutuhan
pelanggan (meeting
the needs of customers).
D’Greenhouse
Caffe merupakan salah satu cafeteria yang buka 24 jam didaerah
Apartemen Gading Nias, Kelapa Gading, Jakarta Timur. Dalam hal ini
penulis memilih D’Greenhouse Caffe sebagai bahan penelitian karena
telah didapat dalam penelitian adanya penurunan penjualan dalam
sebulan terakhir (gambar 1). Data ini didapat dari hasil wawancara
beberapa karyawan cafe. Keluhan tersebut sebagian besar mengenai
bentuk pelayanan karyawan D’Greenhouse Caffe. Keluhan-keluhan yang
datang bersumber dari kurang puasnya perasaan pelanggan akan
pelayanan yang diberikan karyawan. Pelanggan beranggapan cara dan
sikap karyawan dalam menyambut maupun saat melayani sangat kurang
professional dan tidak terdidik. Padahal telah jelas adanya slogan
yag terpasang disana “Pembeli adalah Raja” sangat tidak terlihat
sedikitpun. Pelanggan yang seharusnya disambut ramah malah diacuhkan
begitu saja, sikap ini sangatlah kurang professional. Dan berbicara
dengan nada emosi saat pelanggan memberi kritikan adalah tindakan
buruk yang dianggap kurang terdidik.
Karyawan
merupakan sesorang yang ditugaskan sebagai pekerja dari sebuah
perusahaan untuk melakukan operasional perusahaan dan dia bekerja
untuk digaji. (Henry Simamora: Manajemen
Sumber Daya Manusia”(1995:327).
Dalam hal ini karyawan yang diartikan pelayan dan kasir caffe
D’Greenhouse yang bekerja sebagaimana melayani apa yang diinginkan
pelanggan. Melayani baik dalam pemesanan, pelayanan makanan ataupun
pembayaran di kasir dengan bersikap ramah kepada setiap konsumen
tanpa terkecuali. Karyawan yang baik merupakan pencitraan pula
terhadap caffe D’Greenhouse itu sendiri kepada persepsi pelanggan.
Baik, dalam arti kata professional dalam melakukan pekerjaannya.
Karyawan
D’Greenhouse yang rata-rata latar belakang pendidikannya rendah dan
tidak berpengalaman kerja menjadi hambatan utama mereka dalam
berkomunikasi. Hal inilah yang sering menimbulkan masalah saat
berkomunikasi langsung dengan konsumen. Motif komunikasi konsumen
adalah agar diberi pelayanan yang terbaik. Namun kurangnya
pengetahuan karyawan akan dunia kerja serta pengalaman kerja yang
nihil menyebabkan kurang profesionalnya bentuk pelayanan yang
tercipta. Sehingga proses komunikasi yang tercipta antara karyawan
dan konsumen menjadi tidak efektif. Selain itu “kemampuan berbahasa
inggris” juga adalah hal penting yang seharusnya dimiliki oleh
setiap karyawan. Namun dalam kenyataannya tidak seorangpun karyawan
yang fasih ataupun bisa berbahasa inggris, hal ini sangat
mengecewakan pelanggan luar domestik dan juga terkadang merepotkan
pelanggan lain karena diminta bantuan oleh karyawan untuk
menerjemahkan. Dapat dilihat dari data terbaru mengenai pendidikan
terakhir karyawan D’Greenhouse caffe. (gambar 1)
Pelanggan
merupakan seseorang yang membina hubungan baik dengan orang lain
khususnya produsen dalam bidang usaha.
Pelanggan
yang seharusnya membina hubungan baik dengan produsen tidak tercipta
dengan inilah timbul masalah yang tidak seharusnya. Pelanggan
beranggapan belum dapat menerima pelayanan baik yang seharusnya dari
karyawan Dapat dilihat dari data terbaru yang penulis terima tentang
peningkatan laporan keluhan pelanggan dalam dua bulan terakhir.
(gambar 3)
Tuntutan
pelanggan untuk mendapatkan pelayanan yang lebih baik (service
excellence) tidak dapat dihindari oleh penyelenggara pelayanan jasa.
Tuntutan para penerima layanan untuk memperoleh pelayanan yang lebih
baik harus disikapi sebagai upaya untuk memberikan kepuasan kepada
penerima layanan. Kepuasan penerima layanan sangat berkaitan dengan
kualitas pelayanan yang diberikan. Dari pendapat di atas diketahui
bahwa kualitas pelayanan mencakup berbagai faktor. Menurut Albrecht
dan Zemke (dalam Dwiyanto, 2005 :145),”Bahwa
kualitas pelayanan merupakan hasil interaksi dari berbagai aspek,
yaitu sistem pelayanan, sumber daya manusia pemberi pelayanan,
strategi, dan pelanggan (customers).”
NO
|
TANGGAL
DAN BULAN
|
RATA-RATA
PENJUALAN
|
1
|
1-7
OKTOBER (minggu pertama)
|
5,0
JT
|
2
|
8-14
OKTOBER (minggu kedua)
|
4,8
JT
|
3
|
15-21
OKTOBER (minggu ketiga)
|
4,7
JT
|
4
|
22-28
OKTOBER (minggu keempat)
|
4,4
JT
|
5
|
29
OKTOBER-4 NOVEMBER (minggu kelima)
|
4,2
JT
|
6
|
5-11
NOVEMBER (minggu keenam)
|
3,8
JT
|
Gambar
1
DAFTAR
IDENTITAS KARYAWAN D’GREENHOUSE CAFFE
NO
|
Nama-nama
Karyawan D’Greenhouse Caffe
|
Asal
Daerah
|
Pendidikan
terakhir
|
1
|
Dara
sulastri
|
Tasikmalya
|
SMA
|
2
|
Uswatun
khasanah
|
Pemalang
|
SMP
|
3
|
Maya
nurlia
|
Tegal
|
SMP
|
4
|
Purna
nursani
|
Banten
|
SMP
|
5
|
Airin
|
Tangerang
|
SMP
|
6
|
Daryanto
|
Tegal
|
SMA
|
7
|
Dodo
teguh
|
Pemalang
|
SMP
|
8
|
Sain
ahmad
|
Karawang
|
SD
|
9
|
Irfan
|
Pemalang
|
SMP
|
10
|
Lukman
|
Pemalang
|
SMP
|
11
|
Joki
arman
|
Tangerang
|
SMP
|
12
|
Sunari
|
Pemalang
|
SMP
|
13
|
Roy
reyadi
|
karawang
|
SMP
|
Gambar
2
DATA
PERUBAHAN RATA-RATA JUMLAH PELANGGAN
NO
|
Waktu
|
Rata-rata
jumlah pelanggan
|
1
|
Minggu
pertama
|
100
orang
|
2
|
Minggu
kedua
|
90
orang
|
3
|
Minggu
ketiga
|
85
orang
|
4
|
Minggu
keempat
|
80
orang
|
5
|
Minggu
kelima
|
70
orang
|
6
|
Minggu
keenam
|
60
orang
|
Gambar
3
1.2 Rumusan Masalah
Dari
latar belakang masalah tersebut maka timbul pertanyaan penulis,
“Bagaimana
Hubungan kualitas pelayanan karyawan bagian pelayan di D'greenhouse
caffe
terhadap
persepsi pelanggan?”
Berdasarkan uraian
di atas, maka penulis merumuskan judul penelitian sebagai berikut :
“Hubungan Kualitas Pelayanan Karyawan Bagian Pelayan di
D’Greenhouse Caffe Terhadap Persepsi Pelanggan”.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan
dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui apakah
terdapat hubungan
yang
signifikan antara
pelayanan karyawan dengan persepsi pelanggan
dan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang positif terhadap
pelayanan karyawan yang diberikan dengan presepsi pelanggan.
1.4 Kegunaan Penelitian
Secara teoritis,
diharapkan sebagai bahan pemikiran dan masukan bagi karyawan agar
dapat memberikan pelayanan yang berkualitas dan baik, sehingga
terciptanya hubungan baik antara pelanggan dengan karyawan
D’greenhouse caffe.
Secara
praktis, diharapkan bagi pembaca atau karyawan agar menambah
pengetahuan tentang bagaimana bentuk pelayanan yang baik, bagaimana
komunikasi yang baik dan tindakan komunikasi yang seharusnya
dilakukan sebagai bentuk pelayanan kepada seorang pelanggan serta
bagaimana agar dapat memberikan kepuasaan kepada pelanggan dan
bagaimana memberikan pelayanan yang berkualitas.
Dari rumusan
masalah pokok penelitian “Hubungan Pelayanan Karyawan Bagian
Pelayan D’Greenhouse Caffe Terhadap Persepsi Pelanggan”, penulis
akan menguraikan konsep-konsep sebagai berikut :
- D'Greenhose Caffe
- Karyawan
- Kualitas Pelayanan
- Presepsi
- Pelanggan
2.1.1 D'Greenhose Caffe
D’Greenhouse Caffe
merupakan salah satu cafeteria yang buka 24 jam didaerah Apartemen
Gading Nias, Kelapa Gading, Jakarta Timur. Dalam hal ini penulis
memilih D’Greenhouse Caffe sebagai bahan penelitian karena telah
didapat dalam penelitian adanya penurunan penjualan dalam sebulan
terakhir. Data ini didapat dari hasil wawancara beberapa karyawan
cafe. Keluhan tersebut sebagian besar mengenai bentuk pelayanan
karyawan D’Greenhouse Caffe.
Organisasi
yang berpusat pelanggan (Customer
Centered)
memberikan kesempatan yang luas kepada para pelanggannya untuk
menyampaikan saran dan keluhan. Informasi-informasi ini dapat
memberikan ide-ide cemerlang bagi D'greenhouse caffe dan
memungkinkannya untuk bereaksi secara tanggap dan cepat untuk
mengatasi masalah-masalah yang timbul.
2.1.2 Karyawan
Menurut Henry
Simamora (1995, hal 327), “Karyawan merupakan seseorang yang
ditugaskan sebagai pekerja dari sebuah perusahaan untuk melakukan
operasional perusahaan dan dia bekerja untuk digaji”. Dalam hal ini
karyawan yang diartikan pelayan dan kasir caffe D’Greenhouse yang
bekerja sebagaimana melayani apa yang diinginkan pelanggan. Melayani
baik dalam pemesanan, pelayanan makanan ataupun pembayaran di kasir
dengan bersikap ramah kepada setiap konsumen tanpa terkecuali.
2.1.3 Kualitas Pelayanan
Menurut
Bharata (2004), “pelayanan adalah suatu kegiatan atau urutan
kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung antara seseorang
dengan orang lain atau mesin secara fisik, dan menyediakan kepuasan
pelanggan”. Sedangkan menurut Gronroos (2005 hal 2) berpendapat
“Pelayanan adalah suatu aktivitas atau serangkaian aktivitas yang
bersifat tidak kasat mata (tidak dapat diraba) yang terjadi sebagai
akibat adanya interaksi antara konsumen dengan karyawan atau hal-hal
lain yang disediakan oleh perusahaan pemberi pelayanan yang
dimaksudkan untuk memecahkan Permasalahan konsumen atau pelanggan.”
Menurut Wyckof
(dalam Tjiptono, 1996:59), “Kualitas pelayanan diartikan sebagai
tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat
keunggulan untuk memenuhi keinginan pelanggan. Kualitas pelayanan
bukanlah dilihat dari sudut pandang pihak penyelenggara atau penyedia
layanan, melainkan berdasarkan presepsi mayarakat (pelanggan)
penerima layanan. Pelangganlah yang mengkonsumsi dan merasakan
pelayanan yang diberikan, sehingga merekalah yang seharusnya menilai
dan menentukan kualitas pelayanan”.
-
Teori Kualitas Pelayanan
Persoalan yang
sering dikritisi masyarakat atau para penerima layanan adalah
persepsi terhadap “kualitas” yang melekat pada selurus aspek
pelayanan. Istilah “kualitas” ini, menurut Tjiptono (1996 hal 55)
mencakup pengertian 1) kesesuaian dengan persyaratan ; 2) kecocokan
untuk pemakaian ; 3) perbaikan berkelanjutan ; 4) bebas dari
kerusakan/cacat ; 5) pemenuhan kebutuhan pelanggan sejak awal dan
setiap saat ; 6) melakukan segala sesuatu secara benar ; dan 7)
sesuatu yang bisa membahagiakan pelanggan.
Pada prinsipnya
pengertian-pengertian tersebut di atas dapat diterima bila dikaitkan
dengan kebutuhan atau kepentingan masyarakat yang menginginkan
kualitas pelayanan dalam takaran tertentu. Namun demikian setiap
jenis pelayanan yang diselenggarakan oleh sebuah penyedia produk
tentu mempunyai kriteria kualitas tersendiri. Hal ini tentu terkait
erat dengan atribut pada masing-masing jenis pelayanan.
2.1.4 Persepsi
Menurut
Gibson
(1989),
“persepsi adalah
proses kognitif yang dipergunakan oleh individu untuk menafsirkan dan
memahami dunia sekitarnya (terhadap obyek). Gibson juga menjelaskan
bahwa, “persepsi merupakan proses pemberian arti terhadap
lingkungan oleh individu. Oleh karena itu, setiap individu memberikan
arti kepada stimulus secara berbeda meskipun objeknya sama.” Cara
individu melihat situasi seringkali lebih penting daripada situasi
itu sendiri.
Apa
yang ada dalam diri individu, pikiran, perasaan,
pengalaman-pengalaman individu akan ikut aktif berpengaruh dalam
proses persepsi.
Presepsi
pelanggan adalah pikiran atau pandangan seorang pelanggan mengenai
pelayanan yang diberikan karyawan. Jika Pelayanan yang diberikan
sesuai dengan keinginan pelanggan maka pelanggan akan merasa senang
dan puas maka akan timbul presepsi yang positif, namun jika pelayanan
yang diberikan tidak sesuai dan tidak memuaskan pelanggan maka akan
timbul presepsi yang negatif.
2.1.5 Pelanggan
Menurut Cambridge
International Dictionaries, pelanggan adalah “a person who buy
goods or a service” artinya pelanggan adalah seseorang yang
membeli suatu barang atau jasa. Sementara menurut Webster’s,
“pelanggan adalah seseorang yang beberapa kali datang ke tempat
yang sama untuk membeli suatu barang atau peralatan atau pelanggan
adalah seseorang yang beberapa kali datang ke tempat yang sama untuk
memenuhi apa yang diinginkan.”
Dengan kata lain, pelanggan adalah seseorang yang secara kontinyu dan
berulang kali datang ke suatu tempat yang sama untuk memuaskan keinginannya
dengan memiliki suatu produk atau mendapatkan suatu jasa dengan membayar
produk atau jasa tersebut. Pelanggan merupakan fokus utama dalam pembahasan mengenai kepuasan dan kualitas karena dalam hal ini pelanggan memegang peranan cukup penting dalam mengukur kepuasan terhadap produk maupun pelayanan yang diberikan perusahaan.
Dengan kata lain, pelanggan adalah seseorang yang secara kontinyu dan
berulang kali datang ke suatu tempat yang sama untuk memuaskan keinginannya
dengan memiliki suatu produk atau mendapatkan suatu jasa dengan membayar
produk atau jasa tersebut. Pelanggan merupakan fokus utama dalam pembahasan mengenai kepuasan dan kualitas karena dalam hal ini pelanggan memegang peranan cukup penting dalam mengukur kepuasan terhadap produk maupun pelayanan yang diberikan perusahaan.
Mengenali dan
memahami keinginan pelanggan jauh lebih penting, karena
produsen bergantung pada konsumennya. Konsumen selalu mancari nilai yang
dianggap paling tinggi dari beberapa produk. Mereka membentuk harapan tentang
nilai yang akan diperoleh (value expectation). Dari nilai tersebut kemudian dapat
diukur besar kepuasan yang dimiliki oleh pelanggan.
produsen bergantung pada konsumennya. Konsumen selalu mancari nilai yang
dianggap paling tinggi dari beberapa produk. Mereka membentuk harapan tentang
nilai yang akan diperoleh (value expectation). Dari nilai tersebut kemudian dapat
diukur besar kepuasan yang dimiliki oleh pelanggan.
Jika dikaitkan
dengan penelitian, maka indikator pelanggan ada 2 yaitu :
- Kepuasaan Pelanggan
- Kepuasaan Pelanggan
Menurut Kotler dan
keller (2007 hal 177), “Kepuasan adalah perasaan senang atau
kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan kinerja (hasil)
produk yang dipikirkan terhadap kinerja (atau hasil) yang
diharapkan”. Kepuasaan pelanggan sangat penting bagi suatu
perusahaan untuk dapat meningkatkan kinerja dan menambah konsumen
atau pelanggan.
Jenis-jenis
kepuasan pelanggan ada 2 yaitu :
- Kepuasan fungsional merupakan kepuasaan yang diperoleh dari dari pemakain suatu produk. Misalnya : dengan makan dapat membuat perut kita kenyang
- Kepuasan psikologokal merupakan kepuasan yang diperoleh dari atribut yang bersifat tidak wujud. Misalnya : merasa bangga karena mendapat pelayanan yang sangat istimewa dari sebuah tempat makan.
Ada
beberapa cara mengukur kepuasan pelanggan (Kotler, 2000) :
1. Complaint and suggestion system (Sistem keluhan dan saran). Banyak
perusahaan membuka kotak saran dan menerima keluhan yang dialami oleh
langganan. Ada juga perusahaan yang memberi amplop yang telah ditulis
alamat perusahaan untuk digunakan menyampaikan saran, keluhan, serta
kritik.
2. Customer satisfaction surveys (Survei kepuasan pelanggan), dalam hal
perusahaan melakukan survei untuk mendeteksi komentar pelanggan survei
ini dapat dilakukan melalui pos, telepon atau wawancara pribadi atau pelanggan diminta mengisi angket.
3. Ghost shopping (Pembeli bayangan), dalam hal ini perusahaan menyuruh
orang tertentu sebagai pembeli ke perusahaan lain atau ke perusahaannya
sendiri. Pembeli misteri ini melaporkan keunggulan dan kelemahan pelayan
yang melayaninya. Juga dilaporkan segala sesuatu yang bermanfaat sebagai
bahan pengambilan keputusan oleh manajemen.
4. Lost Customer Analysis ( Analisis pelanggan yang lari), langganan yang
hilang, dicoba dihubungi. Mereka diminta untuk mengungkapkan mengapa
mereka berhenti, pindah ke perusahaan lain, adakah sesuatu masalah yang
terjadi yang tidak bisa diatasi atau terlambat di atasi. Dari kontak semacam
itu akan diperoleh informasi dan akan memperbaiki kinerja perusahaan
sendiri agar tidak ada lagi langganan yang lari dengan cara meningkatkan
kepuasan mereka.
1. Complaint and suggestion system (Sistem keluhan dan saran). Banyak
perusahaan membuka kotak saran dan menerima keluhan yang dialami oleh
langganan. Ada juga perusahaan yang memberi amplop yang telah ditulis
alamat perusahaan untuk digunakan menyampaikan saran, keluhan, serta
kritik.
2. Customer satisfaction surveys (Survei kepuasan pelanggan), dalam hal
perusahaan melakukan survei untuk mendeteksi komentar pelanggan survei
ini dapat dilakukan melalui pos, telepon atau wawancara pribadi atau pelanggan diminta mengisi angket.
3. Ghost shopping (Pembeli bayangan), dalam hal ini perusahaan menyuruh
orang tertentu sebagai pembeli ke perusahaan lain atau ke perusahaannya
sendiri. Pembeli misteri ini melaporkan keunggulan dan kelemahan pelayan
yang melayaninya. Juga dilaporkan segala sesuatu yang bermanfaat sebagai
bahan pengambilan keputusan oleh manajemen.
4. Lost Customer Analysis ( Analisis pelanggan yang lari), langganan yang
hilang, dicoba dihubungi. Mereka diminta untuk mengungkapkan mengapa
mereka berhenti, pindah ke perusahaan lain, adakah sesuatu masalah yang
terjadi yang tidak bisa diatasi atau terlambat di atasi. Dari kontak semacam
itu akan diperoleh informasi dan akan memperbaiki kinerja perusahaan
sendiri agar tidak ada lagi langganan yang lari dengan cara meningkatkan
kepuasan mereka.
2.1.6 Hubungan kualitas pelayanan karyawan bagian pelayan D'greenhose caffe terhadap persepsi pelanggan
Dalam
mengelola sumber daya manusianya perusahaan harus senantiasa
memperhatikan tingkat efisiensi dan efektivitas karyawan dengan baik
agar karyawan dapat memberikan kontribusi yang cukup bagi perusahaan
sehingga akan tercapai suatu kualitas kerja karyawan.
Kualitas kerja menyangkut mutu sumber daya manusia yang berhubungan
dengan kemampuan, yaitu kemampuan fisik dalam mengerjakan dan
menyelesaikan pekerjaan yang dipengaruhi oleh beberapa faktor dan
dinilai melalui pengukuran kualitas kerja seperti pencapaian target
pekerjaan terhadap kuantitas produk, kualitas produk, ketepatan
waktu, dan anggaran. Hubungan Kualitas Pelayanan Karyawan dengan
Persepsi
dapat didefinisikan sebagai suatu proses dimana individu
mengorganisasikan dan memaknakan kesan-kesan indera untuk dapat
memberikan arti terhadap lingkungannya. Apa yang seseorang persepsi
terhadap sesuatu dapat berbeda dengan kenyataan dengan kenyataan yang
objektif.
Hubungan antara
kualitas pelayanan karyawan dengan presepsi pelanggan saling
berkaitan dan berhubungan satu sama lain. Pelayanan karyawan yang
baik dan berkualitas akan membuat pelanggan puas dan senang dan dapat
mengubah presepsi yang negatif menjadi positif. Pelayanan yang
karyawan berikan haruslah sesuai dengan permintaan pelanggan.
Karyawan juga harus mematuhi aturan yang berlaku di caffe tersebut
agar dapat bekerja sesuai dengan yang dinginkan manajer caffe dan
sesuai harapan pelanggan. Presepsi pelanggan sesuai dengan pelayanan
yang diberikan karyawan jika pelayanannya buruk maka akan timbul
presepsi negatif, jika pelayanan baik maka akan timbul presepsi
positif. Pelayanan karyawan yang baik dan berkualitas dengan presepsi
pelanggan yang baik dan postif akan menimbulkan kerjasama dan saling
pengertian serta sama- sama merasa bahagia dan senang, karena
mendapatkan apa yang mereka harapkan atau inginkan.
Kualitas
pelayanan memberikan suatu dorongan kepada pelanggan untuk menjalin
hubungan yang kuat dengan penyedia jasa. Kualitas layanan dapat
diwujudkan dengan memberikan layanan kepada pelanggan dengan sebaik
mungkin sesuai dengan apa yang menjadi harapan pelanggan.
D’Greenhouse
Caffe
Karyawan
Kualitas
Pelayanan
Presepsi
Pelangggan
Sugiyono
(2007, hal 70) menyatakan bahwa “Hipotesis merupakan jawaban
sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah
penelitian telah dinyatakan dalam bentuk pertanyaan”
Hipotesis
yang penulis buat sebagai berikut :
H0
: Tidak adanya hubungan
antara Kualitas Pelayanan
Karyawan Bagian
Pelayan D'greenhose caffe terhadap Persepsi
Pelanggan
Ha
: Adanya hubungan antara Kaulitas Pelayanan Karyawan Bagian Pelayan
D'greenhose caffe terhadap Persepsi Pelanggan
X
Y
X
: Kualitas Pelayanan karyawan bagian pelayan di
D'greenhouse caffe
Y
: Persepsi pelanggan D'greenhouse caffe
3.1 Desain Penelitian
Untuk
menjawab masalah pokok penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan
kuantitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey.
Menurut Irawan
(2006, hal 109) “berpendapat bahwa metode survai adalah metode
penelitian yang menggunakan kuesioner sebagai instrument utama dalam
mengumpulkan data”. Metode penelitian survai dilakukan dengan cara
mengambil sampel dari satu populasi menggunakan kuesioner sebagai
alat untuk mengumpulkan data.
Dengan
demikian penelitian ini dikategorikan sebagai explanatory
research,
yaitu penelitian yang menjelaskan hubungan kausal antara
variabel-variabel penelitian melalui pengujian hipotesis
(Singarimbun, 1995). Dalam melakukan penelitian salah satu hal yang
penting ialah membuat desain penelitian. Desain penelitian bagaikan
sebuah peta jalan bagi peneliti yang menuntun serta menentukan arah
berlangsungnya proses penelitian secara benar dan tepat sesuai dengan
tujuan yang telah ditetapkan.Tanpa desain yang benar seorang peneliti
tidak akan melakukan penelitian dengan baik karena yang bersangkutan
tidak mempunyai pedoman arah yang jelas.
Sugiyono
(2007b, hal 7), “Expost facto adalah sesuatu penelitian yang
dilakukan untuk meneliti suatu peristiwa yang sudah terjadi dan
kemudian merunut kebelakang untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat
meyebabkan timbulnya kejadian tersebut.”
Sub Desain Expost
Facto :
1.
Studi Pustaka
Data-data yang
diperlukan sebagai landasan teori yang akan digunakan sebagai dasar
perumusan masalah dan alat menganalis data. Data tersebut diperoleh
dengan mempelajari beberapa buku, terutama buku-buku teori
komunikasi, manajemen SDM,diktat,catatan kuliah.
2. Studi Lapangan
- Daftar Pertanyaan (Questionaire)
Yaitu metode
pengumpulan data dengan menyusun daftar pertanyaan tertentu yang
diajukan kepada pimpinan perusahaan dan pegawai yang bersangkutan.
- Wawancara (Interview)
Yaitu mengajukan
pertanyaan langsung kepada pimpinan yang berwenang/pegawai yang
terkait, secara tanya jawab dengan demikian diharapkan dapat
diperoleh data-data yang diperlukan, yang berhubungan dengan
permasalahan penelitian ini.
- Pengamatan langsung (Observasi)
Pengamatan ini
dikatakan dengan peninjauan langsung ke perusahaan untuk mendapatkan
gambaran yang lebih jelas dan menyeluruh tentang aktivitas
perusahaan. Guna melengkapi data yang telah diperoleh melalui
kuisoner dan wawancara.
3.2 Populasi dan Sampel
Menurut Sugiyono
(2007a hal 90), ”Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri
atas : objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik
tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian
ditarik kesimpulannya”
Kriyantono (2007b
hal 150) berpendapat, ”Populasi adalah keseluruhan objek atau
fenomena yang akan diteliti.”
Jika dikaitkan
dengan pokok penelitian, maka populasi penelitian ini adalah Karyawan
bagian pelayan di D'greenhouse caffe.
Sampel
menurut Jalaludin Rakhmat Metode Penelitian Komunikais (200, hal 78)
ialah, “Sebagian dari populasi
dan sejumlah orang dipilih untuk diteliti juga sebagai contoh untuk
atau anggapan dapat mewakili keseluruhan populasi.”
Berdasarkan
penjelasan diatas, penulis menyimpulkan sampel adalah bagian dari
populasi yang diambil dengan menggunakan teknik sampling.
Pada penelitian
ini, penulis menggunakan sampling acak berstrata (staratified random
sampling).
Menurut Rachmat
Kryantono (2008, hal 153), “Dalam teknik ini, populasi
dikelompokkan kedalam kelompok atau kategori yang disebut srata.
Strata ini bisa berupa usia, jenis kelamin, agama, tingkat
penghasilan dan sebagainya.”
Menurut Rachmat
Kriyantono (2008, hal 154) menguntip pendapat Neumann mengenai
Stratified sampling, “Untuk mendapatkan secara jelas mengenai
sifat-sifat populasi yang heterogen, maka populasi yang bersangkutan
harus diabgi-bagi dalam strata yang seragam, dan dari setiap lapisan
dapat diambil sampel secara acak.”
Dikaitkan dengan
penelitian, penulis menggunakan teknik random sampling untuk
menentukan sampel objek penelitian. Sampel penulis merupakan 13 orang
karyawan bagian pelayan di D'greenhouse caffe.
3.3 Bahan Penelitian
Dalam melakukan
penelitian untuk mengetahui hubungan kualitas pelayanan bagian
pelayan D'greenhouse caffe terhadap presepsi pelanggan. Bahan
penelitian yang penulis gunakan adalah :
1 Karyawan
D’Greenhouse Caffe bagian pelayan sebagai subjek penelitian
2. Kualitas
pelayanan sebagai objek penelitian
Variabel yang
dianalisis dalam penelitian ini dibedakan menjadi variabel independen
dan variabel dependen.
- Variabel Independen (X)
Menurut Kountur
(2005, hal 117), “Variabel independen adalah variabel pelaku.
Peneliti memanipulais variabel independen untuk mengetahui apa yang
terjadi pada variabel dependen. Variabel independen menyebabkan
perubahan pada variabel dependen.”
Variabel independen
(X) merupakan variabel bebas yang nantinya akan mempengaruhi variabel
dependen yaitu Kualitas pelayanan, dengan indikator :
1. Jenis Pelayanan
2. Strategi
Pelayanan
3. Sistem pelayanan
2. Variabel
Dependen (Y)
Menurut Kountur
(2005, hal 118), “Variabel dependen disebut juga variabel terikat
oleh karena perubahan yang terjadi pada variabel ini dipenagruhi oleh
variabel independen.”
Variabel dependen
(Y) adalah variabel tergantung yang keberadaannya dipengaruhi
variabel lainnya. Dalam penelitian ini variabel dependen adalah
Presepsi. Indikator yang yaitu :
- Tindakan Pelayanan
- Kualitas Pelayanan
- Pemenuhan Pelayanan
Penulis menggunakan
skala Likert, Sugiyono (hal 93) menjelaskan, “Skala Likert
digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan presepsi sesorang atau
sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian, fenomena
sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang
selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian.”
Jawaban setiap
instrument yang menggunakan skala Likert mempunyai gradiasi dari
sangat positif sampai negatif, yang dapat berupa kata-kata antara
lain :
Sangat
Setuju
Setuju
Ragu-ragu
Tidak
Setuju
Sangat
Tidak Setuju
Terdapat
lima pernyataan yang memiliki skor untuk masing-masing jawaban, yaitu
:
Jawaban SS (Sangat
Setuju) : Skala diberi skor 1
Jawaban S
(Setuju) : Skala diberi skor 2
Jawaban RG
(Ragu-ragu) : Skala diberi skor 3
Jawaban TS (Tidak
Setuju) : Skala diberi skor 4
Jawaban STS (Sangat
Tidak Setuju) : Skala diberi skor 5
Atribut
:
a.
Sangat tinggi, jika responden mendapat skor 21-25 dari 5 pertanyaan
yang diajukan
b.
Tinggi, jika responden mendapat skor 17-20 dari 5 pertanyaan yang
diajukan
c
Sedang, jika responden mendapat skor 13-16 dari 5 pertanyaan yang
diajukan
d.
Rendah, jika responden mendapat skor 9-12 dari 5 pertanyaan yang
diajukan
e.
Sangat rendah, jika responden mendapat skor 5-8 dari 5 pertanyaan
yang diajukan
3. 5 Teknik Pengumpulan Data
Data penelitian
dapat dibedakan menjadi data primer dan data sekunder. Menurut
Kriyantono (hal 41-42) perolehan data dapat terbagi menjadi dua yaitu
melalui :
- Data primer adalah data yang diperoleh dari sumber data yang pertama atau tangan pertama di lapangan. Sumber data ini bisa responden atau subjek riset, dari hasil pengisian kuesioner, wawancara dan observasi
- Data sekunder adalah data yang diambil dan diolah menurut data yang didapat dari sumber yang diteliti.
3.6.Teknik Analisis Data
Analisis
data menurut Maelong yang dikutip Kriyantono (hal 165) adalah,
“Proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola,
kategoti dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan
dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.”
Untuk
pencapaian tujuan penelitian maka menggunakan alat analisis sebagai
berikut :
Rating
Scale : Untuk memberikan rangking nilai/jawaban yang diberikan
responden. Metode ini data mentah yang diperoleh untuk mengukur
efektivitas pelayanan karyawan dan persepsi pelanggan, adalah berupa
angka yang ditafsirkan dalam pengertian kualitatif untuk kemudian
hasil akhirnya akan menjadi variable x dan y.
3.6.1 Uji Validitas
Valid ialah suatu
ukuran yang menunjukkan tingkat keandalan suatu alat ukur, sedangkan
reliabel adalah keajekan (konsistensi) alat pengumpul data penelitian
(Riduwan, 2005: 1).
Uji validitas
adalah uji tentang kemampuan suatu kuesioner dalam mengukur apa yang
ingin diukur. Teknik yang digunakan dalam pengujian ini yaitu
korelasi antara skor item dengan skor total. Koefsien korelasi yang
kurang dari 0,3 menunjukkan pertanyaan tidak valid (Setiaji, 2004:
67).
Keputusan dilakukan
dengan melihat hasil output Corrected Item-Total Correlation dimana
jika koefsien r positif dan lebih besar dari nilai r tabel (Df= N-2
dan = 5 %) berarti butir pertanyaan telah valid (Santoso, 2001:
277).
3.6.2 Uji Hipotesis dengan Analisis Regresi dan Korelasi
Dilakukan untuk
melihat seberapa besar pengaruh dan hubungan kedua variabel bebas
terhadap variabel terikat, baik secara sendiri-sendiri maupun
bersama. Kriteria hubungan sebagai pedoman umum yang digunakan adalah
TABEL 3
Kriteria hubungan
- Nilai rKriteria Hubungan0Tidak ada korelasi0 – 0,20Korelasi sangat lemah0,21 – 0,40Korelasi lemah0,41 – 0,70Korelasi kuat0,71 – 0,90Korelasi sangat kuat0,91 – 0,99Korelasi sangat kuat sekali1Korelasi sempurna
3.6.3 Pengujian Koefisien Korelasi
Untuk membuktikan
hasil dari koefisien korelasi tersebut.
Karena sampel yang
diuji adalah sample besar lebih dari 10, maka dilakukan pengujian
hipotesis dengan menghitung rasio kritis (critical ratio = CR) atau t
hitung dengan rumus sebagai berikut :
=
n-2
Hipotesis :
Ho
:
= 0, menyatakan tidak ada pengaruh
Hi
:
>0, menyatakan ada pengaruh
Menguji
nilai t ini signifikan atau tidak maka perlu dibandingkan dengan t
table dengan taraf nyata sebesar yakni sebagai berikut :
Terima Ho jika t
hitung < nilai t table
Tolak Ho jika t
hitung > nilai t table
3.6.4 Uji Reliabilitas
Untuk menunjukkan
sejauh mana hasil pengukuran relative konsisten apabila alat ukur
tersebut digunakan berulang kali. Reliabilitas juga mengukur sejauh
mana alat ukur dapat dipercaya (Saifuddin, 1997: 4). Reliabilitas
alat ukur (instrumen) diperlihatkan oleh koefisien alpha. Bila
koefisien alpha lebih besar atau samadengan 0,6 maka instrumen dalam
kuesioner cukup reliabel (Setiaji, 2004:67).
Rumus yang
digunakan untuk mencari Reliabilitas Variabel :
Mencari varians
=
Keterangan :
=
Jumlah kuadrat tiap pertanyaan
=
Jumlah kuadrat tiap pertanyaan
n = Banyaknya
responden
Mencari varians
total :
=
Jumlah kuadrat skor total
=
Jumlah skor total
=
Banyak responden
Mencari Reliabilitas
Variabel
Banyak
pertanyaan
=
Jumlah varians
=
Varians total
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
http://www.kajianpustaka.com/2013/04/pengertian-faktor-pengukuran-kepuasan
http://emayasila.wordpress.com/2012/10/17/teori-pelayanan/
http://tesisdisertasi.blogspot.com/2010/09/teori-kualitas-pelayanan.html
http://damarkanggoro.blogspot.com/2010/11/bab-ii-landasan-teori.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar